Kau Sungguh Istimewa!!!

….”Kita masih punya embun, ummi. Yang terus menetesi luka dahaga kita, juga masih ada bara yang setiap saat bisa menghanguskan kepengecutan mereka!”

“Sedang mereka punya peluru, kekejian dan hati yang terbungkus akal licik. Dan engkau hanyalah anak-anak.”

“Aku seorang lelaki sekarang!” serunya merobek pagi yang masih bening.

“Usiamu masih sepuluh tahun, Abduh. Pahami itu.”

“Tapi masa kanak-kanakku sudah hilang ketika tentara Israel itu masuk ke kota ini dan aku melemparinya dengan batu. Sekarang aku sudah tidak ingin lagi melempar batu. Aku ingin melempar yang lebih keras dari itu, biar terhempas mereka hingga ke bayang-bayangnya.”

“Tunggulah hingga kau cukup perkasa” Ibunya kembali meminta ia mengerti.

“Sebelum aku perkasa, mereka telah mengusir kita entah ke mana”

Ibunya hanya menggigit bibir menahan panas di kelopak matanya supaya bulir-bulir hangat tidak mengalir di depan anaknya. Ia tahu bila seseorang di Palestina sudah merasa menjadi lelaki, maka ia bukan lagi milik ibunya, keluarganya, atau siapapun. Ia sudah menjadi milik tanah airnya.

“Lantas dengan siapa ibumu ini tinggal bila kau tak ada lagi?”

“Engkau akan tinggal bersama tanah air yang kuperjuangkan. Tanah suci yang kuperjuangkan. Tanah suci yang akan mengalirkan darahku. Ia adalah pengganti yang lebih baik dariku”

“….Maka relakanlah aku, Ummi”

Suara wanita itu mencekat ketika bicara, “aku telah merelakanmu, bahkan sejak kau mengatakan bahwa kau seorang laki-laki.”….

Cuplikan cerpen di atas kuambil dari Annida No 2 Tahun XII tanggal 23 Oktober 2002. “Dalam Rengkuhan Debu-debu” adalah buah karya Qurrota A’yun. Salut untuknya atas cerpen menyentuh di atas. Cerpen yang membuatku mengharu biru. Aku menjadi sadar. Laki-laki Palestina memang berbeda. Pun dengan para wanitanya. Mereka sungguh istimewa! Rasulullah saw pun menandaskan hal tersebut di depan para sahabatnya.

“Senantiasa ada segolongan dari umatku yang berada di atas kebenaran dan menghadapi musuh mereka dengan kekuatan. Tak ada yang bisa memberi mudharat kepada mereka sampai Allah mendatangkan urusanNya sementara mereka tetap berada dalam kondisinya (tetap di atas kebenaran dan berjuang dengan kekuatan)”

Para sahabat bertanya, ” Di mana mereka ya Rasulullah?”

Rasulullah menjawab: “Di Baitul Maqdis dan sekitarnya.”

1 Komentar

  1. wahyu am said,

    Juli 30, 2009 pada 10:49 am

    nice postt😉


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: